Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (21/5/2026) pagi di tengah sentimen positif pasar terhadap langkah stabilisasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Meski mata uang Garuda mulai menunjukkan pemulihan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan dan belum mampu keluar dari tren pelemahan beberapa hari terakhir. Berdasarkan data pasar pagi ini,

Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (21/5/2026) pagi di tengah sentimen positif pasar terhadap langkah stabilisasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Meski mata uang Garuda mulai menunjukkan pemulihan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan dan belum mampu keluar dari tren pelemahan beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data pasar pagi ini, rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pekan lalu. Penguatan rupiah terjadi di tengah intervensi agresif BI di pasar valuta asing serta mulai meredanya tekanan permintaan dolar AS domestik.
Di sisi lain, IHSG masih bergerak loyo pada awal perdagangan. Tekanan jual asing dan sentimen global membuat indeks saham domestik sulit bangkit meski rupiah mulai stabil. Sebelumnya, IHSG sempat dibuka melemah hingga ke level 6.352 pada perdagangan Rabu (20/5/2026).
Pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga global, ketegangan geopolitik, hingga arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam melakukan transaksi di pasar saham Indonesia.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga meningkat setelah beberapa saham Indonesia dikeluarkan dari indeks global MSCI. Langkah tersebut memicu aksi jual investor asing dan memperbesar volatilitas di pasar saham maupun nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis tekanan terhadap rupiah akan mulai mereda pada semester kedua 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya memperkirakan permintaan dolar AS akan menurun setelah musim pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan haji berakhir pada Juli hingga Agustus mendatang.
Analis pasar uang menilai penguatan rupiah saat ini masih bersifat terbatas karena sentimen global belum sepenuhnya stabil. Investor juga masih menunggu arah kebijakan fiskal pemerintah serta langkah lanjutan BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Sementara itu, pasar saham domestik diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan level support dan resistance yang cukup lebar akibat tingginya volatilitas perdagangan.












