IHSG Masih Rawan Koreksi, Simak 6 Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas

Finansial Yoga Adi
IHSG Masih Rawan Koreksi, Simak 6 Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas - LaporanTerkini.com

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah menunjukkan sinyal pelemahan di awal pekan. Analis memproyeksikan indeks masih berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek, seiring tekanan jual yang masih mendominasi perdagangan.

Pada penutupan Senin, 27 April 2026, IHSG tercatat melemah sekitar 0,32 persen ke level 7.106,5. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai sekitar Rp2,01 triliun, dengan saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan dan komoditas menjadi target utama tekanan jual.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG masih berada dalam fase rawan koreksi setelah gagal menembus level resistance penting di kisaran 7.250. Dalam riset harian yang dirilis Selasa (28/4/2026), ia menyebut tekanan teknikal masih cukup kuat membayangi pergerakan indeks.

“IHSG berpotensi koreksi kembali setelah gagal break di atas 7.250,” ujar Fanny. Ia menambahkan, secara teknikal level support IHSG berada di rentang 6.900 hingga 7.000, sementara resistance berada pada kisaran 7.200–7.250.

Tekanan terhadap IHSG tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga sentimen global yang masih belum stabil. Ketidakpastian geopolitik serta pergerakan arus modal asing membuat investor cenderung mengambil posisi hati-hati. Kondisi ini membuat pasar saham domestik bergerak fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir.

Di tengah kondisi tersebut, BNI Sekuritas tetap melihat adanya peluang trading jangka pendek pada sejumlah saham pilihan. Dalam risetnya, terdapat enam saham yang direkomendasikan untuk dicermati investor dengan pendekatan taktis.

Saham pertama adalah KIJA yang direkomendasikan dengan strategi buy on weakness di area sekitar Rp183 dengan target jangka pendek di kisaran Rp189 hingga Rp194. Selanjutnya, HRTA juga masuk dalam daftar dengan strategi serupa, memanfaatkan potensi rebound teknikal setelah koreksi.

Sementara itu, UNTR dan ADRO direkomendasikan dengan pendekatan speculative buy, mengingat keduanya masih memiliki potensi penguatan terbatas dalam jangka pendek meski volatilitas tetap tinggi. Dua saham lainnya, SSIA dan INDY, juga dinilai menarik untuk strategi trading, terutama saat terjadi pelemahan harga sebagai peluang akumulasi.

Rekomendasi ini menunjukkan bahwa meski IHSG berada dalam fase rawan koreksi, peluang tetap terbuka bagi investor yang mampu membaca momentum pasar. Strategi buy on weakness menjadi pendekatan utama di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.

Para analis juga mengingatkan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko. Dengan pergerakan indeks yang masih fluktuatif, investor disarankan untuk tetap selektif dan tidak agresif dalam mengambil posisi, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap sentimen global.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar saham Indonesia masih berada dalam fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami tekanan. Bagi investor, periode seperti ini sering kali menjadi momen krusial antara potensi koreksi lanjutan atau awal dari pembalikan arah.

Dengan kombinasi tekanan teknikal dan sentimen global, arah IHSG dalam beberapa hari ke depan masih akan sangat ditentukan oleh pergerakan dana asing serta stabilitas ekonomi global. Namun satu hal yang pasti, peluang tetap ada—selama strategi dijalankan dengan disiplin dan perhitungan matang.

Tags:  bbni, saham bbni, rekomendasi saham bbni

+ posts