
Kalangan pengusaha menilai Indonesia masih memiliki peluang besar menghindari resesi meski pasar keuangan menghadapi tekanan yang terlihat dari pelemahan rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Optimisme tersebut didasarkan pada masih kuatnya arus investasi yang masuk ke berbagai sektor strategis nasional. Menurut pelaku usaha, aktivitas investasi menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Selain investasi, konsumsi domestik yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga dinilai masih relatif kuat. Aktivitas masyarakat di sektor perdagangan, jasa, dan industri disebut masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pengusaha menilai tekanan terhadap rupiah dan pasar saham lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global, penguatan dolar AS, dan dinamika geopolitik internasional. Kondisi tersebut tidak serta-merta mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Ekonom juga melihat Indonesia masih memiliki sejumlah penopang pertumbuhan, mulai dari proyek hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan investasi di sektor manufaktur dan energi.
Meski demikian, dunia usaha tetap meminta pemerintah menjaga stabilitas ekonomi makro agar kepercayaan investor tidak terganggu. Kepastian regulasi dan kemudahan berusaha dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan arus modal masuk.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah terus mendorong investasi melalui berbagai kebijakan insentif dan penyederhanaan perizinan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Pelaku usaha optimistis kombinasi investasi yang terus mengalir dan konsumsi domestik yang kuat akan menjadi modal utama Indonesia menghadapi tantangan ekonomi global sepanjang 2026.
