
JAKARTA, LAPORAN TERKINI – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan mengatakan bahwa Kabupaten Manggarai Timur termasuk daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat serangkaian bencana gempa tektonik yang mengenai Nusa Tenggara Timur pada Senin (17/8/2026). Penegasan ini berdasarkan hasil pemetaan udara awal dan laporan dari tim pencarian dan penyelamatan (SAR) yang telah sampai ke lokasi-lokasi yang terkena dampak.
Berdasarkan laporan yang dikumpulkan, gempa bumi yang cukup kuat menyebabkan ratusan bangunan tempat tinggal, fasilitas umum, dan infrastruktur transportasi di Manggarai Timur mengalami kerusakan berat bahkan roboh. Topografi wilayah yang didominasi oleh perbukitan curam menyebabkan terjadinya longsoran tebing, sehingga memutuskan akses jalan antar kecamatan. Menghadapi situasi darurat tersebut, Basarnas meningkatkan tingkat operasional dan fokus mengutamakan penugasan personel penyelamat yang berpengalaman serta alat evakuasi terkini ke daerah Manggarai Timur untuk menolong korban yang masih terperangkap di bangunan roboh atau area terpencil.
Pemetaan Kerusakan dan Tingkat Keparahan Akibat Gempa di Manggarai Timur
Berdasarkan tinjauan tim asesmen cepat Basarnas, kerusakan di Kabupaten Manggarai Timur terkonsentrasi pada pemukiman padat dan desa-desa di wilayah lereng perbukitan. Sejumlah fasilitas publik seperti gedung sekolah, puskesmas pembantu, dan tempat ibadah dilaporkan roboh atau mengalami retak struktural mayor yang membahayakan.
Kabasarnas menjelaskan bahwa kedekatan jarak antara daratan Manggarai Timur dengan pusat getaran (episentrum) gempa dangkal di perairan utara Flores menjadi faktor pemicu tingginya intensitas getaran yang dirasakan warga.
Evaluasi seismik dan geologis menunjukkan struktur tanah di kawasan perbukitan mengalami pergeseran, sehingga menambah risiko terjadinya longsor susulan apabila terjadi gempa ikutan atau hujan lebat.
Pengerahan Tim Urban SAR dan Penyelamatan Korban Reruntuhan
Guna menangani evakuasi di zona kerusakan parah, Basarnas menerjunkan unit khusus Urban Search and Rescue (USAR) yang dilengkapi peralatan pencari canggih, seperti alat pendeteksi getaran (vibration sensors), kamera pelacak celah sempit, dan anjing pelacak K-9.
Tim penyelamat bergerak menyisir puing-puing bangunan pemukiman guna memastikan ada atau tidaknya warga yang terjebak di bawah reruntuhan material semen dan kayu. Keselamatan jiwa (life-saving) menjadi prioritas utama pada fase awal tanggap darurat ini.
Warga yang mengalami luka berat segera dievakuasi menuju posko medis darurat dan rumah sakit rujukan terdekat menggunakan armada ambulans lapangan serta bantuan helikopter penyelamat Basarnas.
Pembukaan Akses Jalan Terisolasi dan Koordinasi Lintas Sektor
Tantangan terberat yang dihadapi tim SAR di Manggarai Timur adalah terputusnya sejumlah ruas jalan utama akibat material tanah longsor dan patahan jalan. Kondisi tersebut sempat menghambat laju distribusi bantuan logistik serta mobilisasi armada evakuasi berat.
Basarnas berkoordinasi intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Dinas PU daerah, serta satuan zeni TNI untuk mengerahkan alat berat guna membersihkan jalur perlintasan dari timbunan batu dan pohon tumbang.
Untuk desa-desa yang masih sulit ditembus jalur darat, penyaluran logistik permulaan berupa tenda darurat, makanan siap santap, obat-obatan, dan air bersih dilakukan menggunakan metode penurunan via udara (heli-drop).
Sinergi Posko Terpadu dan Jaminan Kebutuhan Penyintas Imbas Gempa
Operasi penanggulangan dampak gempa di Manggarai Timur berjalan secara terpadu melalui pos komando bersama antara Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Kementerian Sosial, dan para relawan kemanusiaan.
Posko pengungsian mandiri dan dapur umum terus dibangun di titik-titik lapang yang aman dari bahaya longsor maupun runtuhan bangunan. Pendampingan medis serta pendataan warga terdampak dilakukan secara berkala demi menjamin seluruh bantuan tersalurkan secara merata.
Kabasarnas mengimbau masyarakat Manggarai Timur untuk tetap waspada, tidak memasuki kembali bangunan yang telah rusak struktural, serta senantiasa mematuhi instruksi evakuasi yang dikeluarkan oleh petugas di lapangan.
Penetapan Manggarai Timur sebagai salah satu wilayah terdampak paling parah dalam bencana gempa bumi NTT menegaskan urgensi percepatan operasi penyelamatan dan pemulihan terpadu. Sinergi antara Basarnas, aparat TNI-Polri, instansi pemerintah, dan relawan kemanusiaan diharapkan mampu meminimalisasi korban jiwa serta mempercepat pembukaan akses jalan dan pemenuhan kebutuhan logistik para pengungsi di wilayah terdampak.

