
Nilai tukar rupiah kembali menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia setelah terus berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di saat sejumlah mata uang regional mulai pulih, rupiah justru masih melemah, sementara yuan China memperoleh sentimen positif dari langkah terbaru Beijing yang memperkuat daya saing mata uangnya di pasar internasional.
Pada perdagangan pekan ini, mayoritas mata uang Asia mencatat penguatan terhadap dolar AS. Namun, rupiah masih bergerak di zona negatif dan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal, mulai dari menguatnya dolar AS, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, hingga arus modal asing yang masih cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Di sisi lain, fundamental domestik yang belum cukup kuat untuk menarik kembali aliran dana asing turut membebani pergerakan rupiah.
Berbeda dengan rupiah, yuan China memperoleh dorongan dari kebijakan Beijing yang terus memperluas penggunaan mata uangnya dalam perdagangan internasional dan transaksi lintas negara. Strategi tersebut memperkuat posisi yuan di tengah upaya China mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Peningkatan penggunaan yuan dalam penyelesaian perdagangan internasional dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas mata uang Negeri Tirai Bambu meskipun ekonomi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Analis menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan tetap berada pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Sentimen tersebut diperkuat oleh meningkatnya kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Meski demikian, Bank Indonesia terus menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, serta optimalisasi instrumen moneter. Otoritas juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mempertahankan kepercayaan investor. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan kebijakan moneter The Federal Reserve, dinamika ekonomi China, serta arus modal global yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu arah rupiah dalam jangka pendek. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pergerakan mata uang Asia diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik internasional.
