
Polemik reklamasi Pulau Serangan di Bali kembali mencuat ke permukaan dan memantik desakan serius dari berbagai pihak yang selama ini memantau dampak lingkungan dan sosial dari proyek besar tersebut. Rajiv, tokoh yang aktif menyuarakan isu tata kelola lingkungan di Bali, secara tegas meminta pemerintah untuk tidak menutup mata dan segera melakukan evaluasi komprehensif terhadap seluruh aspek reklamasi yang telah mengubah wajah Pulau Serangan secara drastis selama beberapa dekade terakhir.
Pulau Serangan yang dulunya dikenal sebagai pulau kecil yang asri dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang yang kaya kini menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sepele. Reklamasi yang pernah dilakukan secara masif di masa lalu dinilai telah mengubah pola arus laut secara permanen, merusak habitat alami biota laut, dan mengancam mata pencaharian nelayan tradisional yang telah turun-temurun bergantung pada kekayaan perairan sekitar pulau tersebut.
Rajiv menekankan bahwa evaluasi yang diminta bukan sekadar tinjauan administratif di atas kertas, melainkan audit lingkungan yang melibatkan para ahli independen, perwakilan masyarakat adat setempat, dan lembaga-lembaga penelitian yang memiliki rekam jejak kredibel dalam bidang ekologi kelautan.
Desakan ini semakin relevan mengingat Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia memiliki tanggung jawab ekstra untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan alam yang menjadi daya tarik utama pulau tersebut di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pemerintah daerah Bali diharapkan merespons desakan ini dengan langkah konkret dan terukur, bukan sekadar pernyataan yang menenangkan sesaat namun nihil tindak lanjut yang nyata di lapangan.
Tags: reklamasi Pulau Serangan, Bali reklamasi, evaluasi reklamasi, lingkungan Bali, Rajiv Bali