PSI dan Projo Rebut Jokowi, Pengamat Nilai Dampak Elektoral Terbatas

Persaingan pengaruh antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan organisasi relawan Pro Jokowi (Projo) dalam mendekati Presiden ke-7 RI Joko Widodo dinilai tidak akan memberi dampak signifikan terhadap peta politik nasional. Pengamat politik menilai pengaruh elektoral Jokowi tidak otomatis berpindah secara utuh ke satu kelompok tertentu. Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan

Persaingan pengaruh antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan organisasi relawan Pro Jokowi (Projo) dalam mendekati Presiden ke-7 RI Joko Widodo dinilai tidak akan memberi dampak signifikan terhadap peta politik nasional. Pengamat politik menilai pengaruh elektoral Jokowi tidak otomatis berpindah secara utuh ke satu kelompok tertentu.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan kedekatan PSI maupun Projo dengan Jokowi memang dapat meningkatkan eksposur politik masing-masing kelompok. Namun, menurut dia, efek elektoralnya tetap terbatas karena pemilih saat ini semakin rasional dan tidak seluruhnya mengikuti preferensi tokoh politik tertentu. 

“Tidak otomatis berefek besar terhadap suara politik,” kata Ujang menilai dinamika perebutan kedekatan dengan Jokowi.

Isu mengenai kedekatan dengan Jokowi kembali mencuat setelah muncul spekulasi terkait arah politik mantan presiden tersebut pasca-Pemilu 2024. PSI yang kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, dianggap memiliki hubungan emosional dan politik yang kuat dengan keluarga mantan kepala negara itu.

Di sisi lain, Projo selama ini dikenal sebagai kelompok relawan utama pendukung Jokowi sejak Pilpres 2014. Organisasi tersebut juga menjadi salah satu kelompok relawan pertama yang mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. 

Menurut Ujang, persaingan simbolik antara PSI dan Projo lebih banyak bertujuan menjaga kedekatan dengan basis pendukung Jokowi dibanding benar-benar memperebutkan pengaruh politik besar. Ia menilai pemilih loyal Jokowi tersebar di berbagai partai sehingga tidak mudah dikonsolidasikan hanya oleh satu organisasi atau partai politik. 

Selain itu, pengaruh Jokowi disebut mulai mengalami penyesuaian setelah dirinya tidak lagi menjabat presiden. Meski masih memiliki popularitas tinggi, dinamika politik nasional kini dinilai lebih dipengaruhi konfigurasi pemerintahan baru dan strategi partai menghadapi Pemilu 2029. 

PSI sendiri terus membangun citra sebagai partai yang dekat dengan generasi muda dan identik dengan Jokowi. Partai tersebut dipimpin Kaesang Pangarep sejak September 2023 dan menjadi bagian Koalisi Indonesia Maju. 

Sementara itu, Projo tetap aktif mengonsolidasikan jaringan relawan nasional pasca-pergantian pemerintahan. Organisasi tersebut diperkirakan masih akan memainkan peran politik dalam agenda elektoral dan konsolidasi dukungan pemerintah ke depan.

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos