Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, memasuki hari keempat pada Rabu (21/5/2026). Hingga kini, sebagian warga terdampak mengaku belum menerima bantuan logistik, sementara kondisi semakin mengkhawatirkan karena muncul ancaman buaya di area permukiman yang terendam. Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu Sungai Mahakam selama beberapa hari terakhir. Ketinggian

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, memasuki hari keempat pada Rabu (21/5/2026). Hingga kini, sebagian warga terdampak mengaku belum menerima bantuan logistik, sementara kondisi semakin mengkhawatirkan karena muncul ancaman buaya di area permukiman yang terendam.
Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu Sungai Mahakam selama beberapa hari terakhir. Ketinggian air di sejumlah kampung dilaporkan terus bertahan dan merendam rumah warga, fasilitas umum, hingga akses transportasi utama antarwilayah.
Warga di beberapa titik terdampak menyebut aktivitas sehari-hari lumpuh total akibat genangan yang belum surut. Sebagian masyarakat terpaksa bertahan di rumah dengan keterbatasan bahan makanan dan akses air bersih karena jalur distribusi sulit dijangkau.
“Kami belum dapat bantuan sampai sekarang,” ujar salah satu warga terdampak banjir di Kutai Barat.
Selain persoalan logistik, warga juga dihantui ancaman satwa liar, terutama buaya, yang mulai terlihat mendekati area permukiman. Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir, terutama terhadap keselamatan anak-anak yang masih harus beraktivitas di sekitar genangan banjir.
Banjir di Kutai Barat memang kerap memicu kemunculan buaya ke wilayah pemukiman karena habitat satwa tersebut terhubung dengan aliran sungai dan rawa yang meluap saat debit air meningkat. Warga kini membatasi aktivitas di luar rumah pada malam hari untuk menghindari risiko serangan satwa liar.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) disebut masih melakukan pendataan terhadap jumlah warga terdampak dan kebutuhan mendesak di lapangan. Namun distribusi bantuan disebut terkendala akses transportasi yang sebagian besar hanya bisa ditempuh menggunakan perahu kecil.
Banjir juga berdampak pada aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat. Sejumlah sekolah dilaporkan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar, sementara distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok ikut terganggu akibat akses jalan terputus.
Masyarakat berharap bantuan logistik dan layanan kesehatan segera dipercepat mengingat banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut. Warga juga meminta pemerintah menyiapkan evakuasi tambahan apabila curah hujan kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.












