BI Sebut Suku Bunga dan Biaya Bangunan Tekan Pasar Properti Nasional

Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer masih mengalami kenaikan pada kuartal I-2026 meski aktivitas penjualan rumah terus melambat. Kondisi tersebut tercermin dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang menunjukkan indeks harga properti tetap tumbuh secara tahunan.

Dalam laporan BI, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat tumbuh 1,89 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang berada di level 1,74 persen yoy. Kenaikan harga terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah.

Meski harga masih naik, pasar perumahan dinilai belum sepenuhnya pulih. Penjualan properti residensial primer justru mengalami kontraksi sebesar 10,77 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini. Pelemahan penjualan terjadi di hampir seluruh tipe rumah, terutama segmen rumah kecil dan menengah yang sebelumnya menjadi penopang pasar.

Bank Indonesia menilai perlambatan penjualan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tingginya harga bahan bangunan, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang masih relatif tinggi, hingga penurunan daya beli masyarakat. Di sisi lain, konsumen juga cenderung menunda pembelian properti di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dari sisi pembiayaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal untuk pembangunan proyek properti. Porsi penggunaan dana internal tercatat mencapai 75,74 persen, sementara pembiayaan dari perbankan berada di kisaran 16,70 persen. Adapun konsumen masih menjadikan fasilitas KPR sebagai sumber utama pembelian rumah dengan kontribusi lebih dari 70 persen terhadap total transaksi.

Bank Indonesia sebelumnya telah mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Namun pelaku industri properti berharap adanya penurunan suku bunga dalam beberapa kuartal mendatang guna mendorong permintaan rumah, terutama dari kalangan masyarakat kelas menengah.

Sejumlah pengembang juga mulai memberikan berbagai insentif seperti diskon harga, cicilan ringan, hingga subsidi biaya administrasi untuk menjaga penjualan tetap bergerak di tengah pasar yang melambat.

Previous post OJK Denda Indosaku Rp 875 Juta Usai Viral Prank Damkar
Next post ndeks Harga Pangan FAO Naik Tiga Bulan Berturut akibat Konflik Timur Tengah