ndeks Harga Pangan FAO Naik Tiga Bulan Berturut akibat Konflik Timur Tengah

ndeks Harga Pangan FAO Naik Tiga Bulan Berturut akibat Konflik Timur Tengah

Harga pangan global terus mengalami kenaikan dalam tiga bulan terakhir seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan rantai pasok energi dan logistik dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat indeks harga pangan global kembali naik pada April 2026 dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.  Berdasarkan laporan

Harga pangan global terus mengalami kenaikan dalam tiga bulan terakhir seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan rantai pasok energi dan logistik dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat indeks harga pangan global kembali naik pada April 2026 dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. 

Berdasarkan laporan FAO, Food Price Index (FFPI) pada April 2026 berada di level 130,7 poin atau meningkat 1,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi yang ketiga secara berturut-turut setelah indeks mulai bergerak naik sejak Februari 2026. 

Lonjakan harga terutama dipicu kenaikan tajam komoditas minyak nabati akibat konflik di Timur Tengah dan terganggunya jalur perdagangan strategis Selat Hormuz. Penutupan jalur distribusi tersebut mendorong harga energi global naik dan berdampak langsung terhadap biaya produksi serta distribusi pangan dunia. 

FAO menyebut harga minyak nabati melonjak 5,9 persen pada April dan menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi. Harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed terdorong naik akibat meningkatnya biaya energi serta bertambahnya permintaan bahan baku biofuel. 

Selain minyak nabati, harga daging global naik 1,2 persen karena berkurangnya pasokan sapi dari Brasil. Harga sereal juga mengalami kenaikan meski relatif terbatas, sedangkan harga gula justru turun sekitar 4,7 persen berkat proyeksi produksi yang membaik di sejumlah negara produsen utama.

FAO memperingatkan tekanan harga pangan global masih berpotensi berlanjut apabila konflik di Timur Tengah terus berlangsung dan mengganggu distribusi energi maupun pupuk dunia. Lembaga tersebut menilai biaya energi yang tinggi dapat memengaruhi pola tanam petani serta memperbesar tekanan inflasi pangan global sepanjang 2026. 

Sejumlah negara mulai mengantisipasi dampak kenaikan harga pangan terhadap inflasi domestik dan daya beli masyarakat. Pengamat ekonomi global menilai tekanan pangan kali ini memiliki pola serupa dengan gejolak harga komoditas saat perang Rusia-Ukraina pada 2022, meski skalanya masih lebih rendah. 

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos