Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI mengonfirmasi lima warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 telah ditangkap militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Sementara itu, empat WNI lainnya masih melanjutkan pelayaran menuju Gaza menggunakan dua kapal berbeda. Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah Indonesia mengutuk keras

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI mengonfirmasi lima warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 telah ditangkap militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Sementara itu, empat WNI lainnya masih melanjutkan pelayaran menuju Gaza menggunakan dua kapal berbeda.
Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah Indonesia mengutuk keras tindakan Israel yang mencegat kapal sipil pembawa bantuan kemanusiaan dan menangkap para relawan internasional, termasuk WNI. Pemerintah juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh awak kapal yang ditahan.
“Situasi di lapangan masih sangat dinamis,” kata Yvonne dalam keterangannya, Selasa (19/5). Ia menyebut empat WNI yang masih berada di laut tetap berada dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu dapat mengalami intersepsi atau penangkapan oleh militer Israel.
Berdasarkan informasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), lima WNI yang ditangkap terdiri dari empat jurnalis media nasional dan satu relawan kemanusiaan. Mereka adalah Toudy Badai Rifan dan Bambang Noroyono dari Republika, Rahendro Herubowo dari iNews, Andre Prasetyo dari Tempo TV, serta Angga dari Rumah Zakat.
Sementara itu, empat WNI lain yang masih melanjutkan pelayaran disebut berada di kapal Zephyro dan Kastri Sadabad. Mereka diketahui tetap berupaya menuju Gaza bersama armada kemanusiaan internasional yang membawa bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan sipil lainnya.
Kemenlu menyatakan telah melakukan koordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul guna memantau kondisi para WNI. Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif seperti penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) apabila dokumen WNI disita serta dukungan medis jika diperlukan.
Selain itu, Indonesia bergabung bersama sembilan negara lain, termasuk Turki, Pakistan, Spanyol, dan Bangladesh, dalam pernyataan bersama yang mengecam tindakan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman juga meminta Kemenlu segera memperkuat jalur diplomasi untuk memastikan keselamatan para relawan Indonesia. DPR RI turut mendesak pemerintah membawa isu tersebut ke forum internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Global Sumud Flotilla merupakan koalisi kemanusiaan internasional yang berupaya menembus blokade laut Gaza guna menyalurkan bantuan bagi warga Palestina. Dalam beberapa tahun terakhir, armada bantuan serupa berulang kali dicegat Israel dengan alasan keamanan kawasan.












