Kemenkes Temukan 4 Kasus Hantavirus di Jakarta Tahun Ini

Kemenkes Temukan 4 Kasus Hantavirus di Jakarta Tahun Ini

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan temuan empat kasus hantavirus di wilayah DKI Jakarta dalam pemantauan terbaru penyakit zoonosis di Indonesia. Kasus tersebut menjadi bagian dari total 23 kasus hantavirus yang tercatat di sembilan provinsi sepanjang periode 2024 hingga 2026. Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus, terutama lewat paparan urine, feses, air liur, atau debu yang

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan temuan empat kasus hantavirus di wilayah DKI Jakarta dalam pemantauan terbaru penyakit zoonosis di Indonesia. Kasus tersebut menjadi bagian dari total 23 kasus hantavirus yang tercatat di sembilan provinsi sepanjang periode 2024 hingga 2026.

Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus, terutama lewat paparan urine, feses, air liur, atau debu yang terkontaminasi. Kemenkes menyebut virus yang dominan ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus, salah satu jenis hantavirus yang umum menyebar di lingkungan perkotaan padat penduduk.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan DKI Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus tertinggi bersama Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain Jakarta, kasus juga ditemukan di Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Menurut data Kemenkes, dari total 23 kasus terkonfirmasi, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Tingkat fatalitas atau case fatality rate (CFR) hantavirus di Indonesia mencapai sekitar 13 persen sehingga pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di lingkungan dengan populasi tikus tinggi.

Pada 2026, pemerintah mencatat lima laporan kasus baru. Namun dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta dipastikan negatif setelah hasil pemeriksaan lanjutan keluar. Sementara tiga kasus lain tidak dapat dianalisis karena kendala kualitas sampel laboratorium.

Kemenkes menyebut kelompok dengan risiko tinggi tertular hantavirus antara lain petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pengendali hama, petani, pembersih saluran air, hingga pekerja laboratorium yang sering bersentuhan dengan tikus atau habitatnya. Penularan umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi kotoran tikus.

Pemerintah juga menegaskan hingga saat ini belum ditemukan indikasi penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia. Meski demikian, sistem surveilans penyakit menular dan pengawasan rumah sakit terus diperkuat guna mengantisipasi potensi peningkatan kasus.

Penelitian Kemenkes sebelumnya menemukan keberadaan hantavirus pada tikus di 29 provinsi. Kondisi tersebut membuat kawasan perkotaan padat seperti Jakarta dinilai memiliki risiko lebih tinggi akibat persoalan sanitasi, pengelolaan sampah, dan tingginya populasi tikus di lingkungan permukiman.

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos