
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax belum mengalami penurunan pada Juli 2026 meski harga minyak mentah dunia tengah melemah. Kondisi tersebut dinilai merupakan bagian dari strategi PT Pertamina (Persero) untuk memulihkan margin keuntungan perusahaan setelah sebelumnya menahan kenaikan harga ketika biaya pengadaan BBM melonjak.
Sejumlah ekonom menilai kebijakan tersebut masih berada dalam koridor mekanisme penetapan harga BBM yang berlaku. Saat harga minyak dunia naik pada beberapa bulan sebelumnya, harga Pertamax dinilai belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian sehingga Pertamina harus menyerap sebagian beban kenaikan biaya. Ketika harga minyak mulai turun, perusahaan memilih mempertahankan harga jual guna mengembalikan margin yang sempat tergerus.
Per 1 Juli 2026, harga Pertamax tetap dipatok sebesar Rp16.250 per liter. Sementara itu, beberapa produk BBM nonsubsidi lain justru mengalami penurunan harga, di antaranya Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Perbedaan kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai alasan Pertamax belum ikut disesuaikan.
Pakar energi menilai strategi yang diterapkan Pertamina merupakan bentuk price smoothing atau penghalusan harga. Melalui pendekatan ini, perusahaan tidak langsung menaikkan maupun menurunkan harga secara drastis setiap kali harga minyak dunia berubah, sehingga fluktuasi harga di tingkat konsumen dapat lebih terkendali. Selain menjaga stabilitas, strategi tersebut juga membantu perusahaan memperbaiki kondisi keuangan setelah menanggung tekanan biaya pada periode sebelumnya.
Di sisi lain, Pertamina menegaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai formula yang diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi. Perusahaan menyatakan setiap perubahan harga dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku dan hasil evaluasi berkala.
Menurut pengamat, apabila harga Pertamax langsung mengikuti pelemahan harga minyak dunia, inflasi berpotensi turun dalam beberapa bulan ke depan. Namun, mempertahankan harga saat ini memberi ruang bagi Pertamina untuk memperbaiki margin usaha sehingga kondisi keuangan perusahaan tetap terjaga. Karena itu, keseimbangan antara kepentingan konsumen dan kesehatan finansial perusahaan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan harga BBM nonsubsidi.
