BSI Cetak Laba Rp2,2 Triliun pada Kuartal I-2026

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun hingga kuartal I-2026. Kinerja tersebut tumbuh 17,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan ditopang oleh penguatan layanan digital, peningkatan dana murah, serta pertumbuhan bisnis emas perseroan.  Direktur Utama BSI, Bank Syariah Indonesia Anggoro Eko Cahyo mengatakan pertumbuhan laba perusahaan didukung pengembangan

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun hingga kuartal I-2026. Kinerja tersebut tumbuh 17,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan ditopang oleh penguatan layanan digital, peningkatan dana murah, serta pertumbuhan bisnis emas perseroan. 

Direktur Utama BSI, Bank Syariah Indonesia Anggoro Eko Cahyo mengatakan pertumbuhan laba perusahaan didukung pengembangan infrastruktur digital yang terus diperluas. Salah satu penopang utama berasal dari aplikasi Byond by BSI yang kini telah memiliki sekitar 6,5 juta pengguna atau tumbuh 79 persen sejak diluncurkan. 

Selain laba, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatat kenaikan signifikan. Hingga Maret 2026, DPK BSI tumbuh sekitar 18 persen secara tahunan menjadi Rp376,8 triliun. Pertumbuhan terbesar berasal dari dana murah atau CASA yang meningkat lebih dari 21 persen menjadi Rp236,2 triliun. 

Dari sisi aset, BSI berhasil mencatat total aset sebesar Rp460 triliun atau naik hampir 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut sekaligus memperkuat posisi BSI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia setelah resmi masuk jajaran lima besar perbankan nasional. 

Fungsi intermediasi perseroan juga menunjukkan tren positif. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp329 triliun atau tumbuh 14,39 persen secara tahunan. Mayoritas pembiayaan disalurkan ke segmen konsumer dan ritel, sementara kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 1,8 persen. 

BSI juga mencatat peningkatan pendapatan berbasis biaya atau fee based income menjadi Rp2,09 triliun. Bisnis emas menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan hingga 125 persen secara tahunan, termasuk dari layanan gadai emas dan platform e-mas yang mengalami lonjakan transaksi signifikan.

Selain bisnis komersial, BSI memperluas dukungan terhadap program pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan rumah subsidi, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perseroan menilai ekspansi layanan syariah dan digital akan menjadi fokus utama untuk menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan ke depan. 

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos