
JAKARTA, LAPORAN TERKINI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan (update) data penanganan darurat pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan total korban meninggal dunia tercatat mencapai 111 jiwa hingga Sabtu (29/8/2026) sore. Di samping angka korban jiwa, aktivitas kegempaan di kawasan tersebut masih terus berlangsung dengan catatan mencapai 9.278 kali gempa susulan (aftershocks) sejak gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 meletus pada pertengahan Agustus lalu.
Data tersebut dipaparkan langsung oleh otoritas kebencanaan nasional dalam konferensi pers resmi di Graha BNPB, Jakarta. BNPB bersama pemerintah daerah dan kementerian terkait terus memfokuskan upaya pada pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas di posko-posko pengungsian serta pemulihan fasilitas publik yang lumpuh.
Update Korban Jiwa: 111 Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa NTT
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa jumlah akumulasi korban meninggal dunia akibat rangkaian gempa di NTT bertahan di angka 111 orang. Pihak BNPB menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada seluruh keluarga korban yang ditinggalkan dan memastikan hak santunan kedaruratan disalurkan tepat sasaran.
Berdasarkan sebaran wilayah penemuan korban jiwa, konsentrasi korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 45 jiwa, disusul Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 38 jiwa, dan Kabupaten Nagekeo sebanyak 13 jiwa, di samping wilayah lainnya di Pulau Flores.
“Jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 111 orang. Kami memohon doa bagi seluruh korban yang wafat dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan serta kekuatan,” ungkap Berton dalam konferensi pers di kantor BNPB, Sabtu (29/8/2026).
Mayoritas korban jiwa merupakan kelompok rentan, terutama kalangan lanjut usia (lansia) dan wanita yang tertimpa material bangunan runtuh saat guncangan gempa terjadi.
Aktivitas Seismik: BMKG dan BNPB Catat 9.278 Kali Gempa Susulan
BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau intensitas pelepasan energi di patahan sesar bawah laut busur Flores. Hingga Sabtu sore, instrumen seismograf telah merekam 9.278 kali gempa susulan. Meski mayoritas gempa susulan berkekuatan mikro dan tidak dirasakan manusia, terdapat lebih dari 150 kali gempa susulan yang guncangannya terasa cukup kuat oleh warga di permukaan.
Gempa susulan dengan magnitudo terbesar tercatat mencapai M 6,2, sementara magnitudo terkecil berada di kisaran M 1,0.
Menurut analisis seismologi BMKG, frekuensi gempa susulan yang mencapai ribuan kali merupakan karakteristik normal dari proses peluruhan energi (decaying process) pascagempa kerak dangkal berukuran besar (M 7,7).
Aktivitas gempa susulan diprediksi para ahli masih akan berlangsung hingga tiga sampai empat pekan ke depan dengan tren magnitudo yang berangsur melemah.
Sebaran Wilayah Terdampak dan Dinamika Pengungsian Warga
Dampak guncangan gempa menimbulkan kerusakan masif pada puluhan ribu unit rumah tinggal, gedung fasilitas kesehatan, rumah ibadah, dan sarana pendidikan di beberapa kabupaten di NTT. Kondisi ini sempat memaksa ratusan ribu warga meninggalkan kediaman mereka menuju tenda-tenda darurat lapangan terbuka.
Meski demikian, data terkini menunjukkan tren penurunan jumlah warga yang berada di pos penampungan umum. Sebagian pengungsi mulai kembali ke permukiman mereka secara bertahap, terutama warga yang bangunan rumahnya telah melalui penilaian teknis dan dinyatakan aman dari risiko keruntuhan.
Adapun posko pengungsian di Kabupaten Sikka dan beberapa titik lain melaporkan ratusan warga telah diantar pulang ke lingkungan masing-masing dengan pendampingan petugas SAR.
Namun, bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat atau roboh total, BNPB mengimbau untuk tetap bertahan di lokasi pengungsian resmi demi mempermudah distribusi bantuan logistik dan pemantauan kesehatan harian.
Penyaluran Bantuan Logistik dan Imbauan Kesiapsiagaan BNPB
Operasi bantuan kemanusiaan terus diperkuat dengan pengerahan armada udara dan laut untuk menembus desa-desa terisolir di wilayah perbukitan Manggarai Timur dan Flores bagian barat. Pasokan air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, tenda keluarga, serta perlengkapan sanitasi (MCK) darurat diprioritaskan di kantong-kantong pengungsian terpadu.
Pemerintah pusat juga telah menyiapkan petunjuk teknis terkait skema bantuan stimulan perbaikan rumah bagi masyarakat terdampak gempa dengan kategori rusak ringan, sedang, dan berat.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu bohong atau disinformasi mengenai potensi tsunami susulan yang kerap beredar di media sosial.
Warga diminta senantiasa memeriksa kondisi struktur fisik tempat tinggal sebelum memutuskan masuk ke dalam rumah serta memastikan jalur evakuasi di lingkungan sekitar tetap terbuka.
Pembaruan penanganan gempa bumi di NTT dengan data korban jiwa 111 orang dan lebih dari 9.200 kali gempa susulan menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan kebencanaan. Melalui koordinasi tanggap darurat BNPB, kesiapsiagaan pemantauan seismik BMKG, pemenuhan logistik pengungsi, serta rencana rehabilitasi permukiman yang terstruktur, proses pemulihan sosial dan fisik masyarakat di Nusa Tenggara Timur diharapkan dapat berjalan cepat dan berkelanjutan.

