Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia, DKI Tertinggi

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia, DKI Tertinggi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan temuan 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi dengan jumlah terbanyak tercatat di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Dari total kasus yang ditemukan, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Sementara 20 pasien lainnya telah dinyatakan sembuh. Kemenkes mencatat tingkat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan temuan 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi dengan jumlah terbanyak tercatat di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Dari total kasus yang ditemukan, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Sementara 20 pasien lainnya telah dinyatakan sembuh. Kemenkes mencatat tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus di Indonesia mencapai sekitar 13 persen.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan penularan virus berkaitan erat dengan paparan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi urine, air liur, feses, hingga debu yang mengandung virus. Aktivitas luar ruang seperti mendaki gunung dan berkemah disebut memiliki risiko paparan lebih tinggi. 

Selain pelaku aktivitas outdoor, sejumlah profesi juga dinilai rentan tertular, di antaranya petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, hingga pekerja laboratorium yang menangani hewan reservoir. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung maupun menghirup partikel debu yang telah tercemar. 

Kemenkes mencatat penyebaran kasus berada di Sumatera Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. DKI Jakarta dan DIY masing-masing mencatat enam kasus, sedangkan Jawa Barat lima kasus. 

Seluruh pasien di Indonesia mengalami gejala Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga gangguan fungsi ginjal. Meski demikian, Kemenkes memastikan virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan Andes Virus yang sempat menimbulkan wabah di kapal pesiar MV Hondius dan diketahui dapat menular antarmanusia. 

Pemerintah menilai risiko masuknya Andes Virus ke Indonesia masih rendah. Namun masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di area dengan populasi tikus tinggi atau bangunan yang lama tidak digunakan. 

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos