
Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, meskipun perekonomian global masih dibayangi konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan tekanan terhadap pasokan energi. Proyeksi tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi domestik dinilai tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian dunia.
Dalam pembaruan laporan World Economic Outlook edisi Juli 2026, IMF tidak mengubah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan proyeksi sebelumnya. Lembaga tersebut menilai permintaan domestik yang tetap kuat, konsumsi rumah tangga, serta aktivitas investasi masih menjadi penopang utama pertumbuhan nasional. Di saat sejumlah negara menghadapi revisi turun akibat dampak perang dan perlambatan perdagangan internasional, Indonesia diperkirakan mampu mempertahankan momentum ekonominya.
IMF menilai gejolak global masih menjadi tantangan terbesar bagi perekonomian dunia. Konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi, sementara fragmentasi perdagangan dan ketidakpastian kebijakan ekonomi di sejumlah negara turut menekan prospek pertumbuhan global. Dalam laporan yang sama, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3 persen pada 2026 dari estimasi sebelumnya sebesar 3,1 persen. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan risiko terhadap negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional maupun impor energi.
Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki fondasi ekonomi yang relatif kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Konsumsi domestik yang besar, stabilitas sektor keuangan, serta keberlanjutan investasi menjadi faktor yang mendukung prospek pertumbuhan. IMF juga memperkirakan laju ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5 persen hingga 2027, mencerminkan kepercayaan terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah situasi global yang belum sepenuhnya pulih.
Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan optimisme bahwa berbagai program pembangunan, percepatan investasi, dan penguatan konsumsi masyarakat akan menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai target. Di sisi lain, tantangan eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, arah kebijakan suku bunga global, serta dinamika geopolitik tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi arus investasi dan perdagangan. IMF menekankan bahwa negara-negara perlu menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif agar mampu meredam dampak ketidakpastian global. Bagi Indonesia, proyeksi pertumbuhan sebesar 5 persen menjadi sinyal positif bahwa ekonomi domestik masih memiliki daya tahan dibandingkan banyak negara lain yang menghadapi perlambatan lebih dalam akibat kondisi global saat ini.
