Friendster Bangkit dari Kubur, Pengguna iPhone di Indonesia Sudah Bisa Akses

Teknologi Yoga Adi
Friendster Bangkit dari Kubur, Pengguna iPhone di Indonesia Sudah Bisa Akses  - LaporanTerkini.com

Kabar mengejutkan datang dari dunia teknologi pada akhir April 2026. Media sosial legendaris Friendster resmi “bangkit dari kubur” dan kembali hadir untuk publik, termasuk pengguna di Indonesia. Kebangkitan ini langsung menjadi sorotan karena platform yang sempat berjaya di awal 2000-an itu kini bisa diakses kembali, khususnya melalui perangkat iPhone.

Laporan yang beredar sejak Rabu, 29 April 2026 menyebutkan bahwa Friendster versi terbaru sudah tersedia di App Store dan dapat digunakan oleh pengguna iOS seperti iPhone dan iPad. Kehadiran kembali platform ini tidak hanya sekadar nostalgia, tetapi juga membawa konsep baru yang berbeda dari media sosial modern saat ini.

Kembalinya Friendster tidak terjadi begitu saja. Platform ini dihidupkan kembali oleh seorang programmer dan entrepreneur asal Amerika Serikat, Mike Carson, yang berhasil mengakuisisi domain dan hak merek dagang Friendster setelah melalui proses panjang. Kesepakatan tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$30.000 atau setara Rp500 jutaan, yang menjadi titik awal kebangkitan platform legendaris ini.

Dalam pernyataannya, Carson menegaskan bahwa ia tidak ingin sekadar menghidupkan kembali Friendster sebagai tiruan media sosial modern. Ia justru ingin menghadirkan pengalaman yang lebih positif dan autentik. “Saya ingin menciptakan sesuatu yang positif,” tulisnya, menekankan visinya untuk mengembalikan esensi pertemanan yang nyata di dunia digital.

Berbeda dengan platform lain seperti Facebook atau Instagram, Friendster versi terbaru hadir tanpa algoritma yang memanipulasi feed dan tanpa sistem follower. Pengguna hanya akan melihat konten dari teman yang benar-benar mereka kenal, bahkan proses pertemanan dibuat unik karena harus dilakukan secara langsung dengan mendekatkan perangkat satu sama lain di dunia nyata.

Konsep ini menjadi pembeda utama yang langsung menarik perhatian publik. Friendster juga menghilangkan elemen-elemen populer seperti jumlah followers dan rekomendasi konten viral, menggantinya dengan pendekatan yang lebih privat dan personal. Pendekatan ini dianggap sebagai respons terhadap kritik terhadap media sosial modern yang dinilai terlalu bergantung pada algoritma dan popularitas semu.

Secara historis, Friendster sendiri pertama kali diluncurkan pada 2002 oleh Jonathan Abrams dan sempat menjadi pionir jejaring sosial global, termasuk di Indonesia. Namun, platform ini mulai kehilangan popularitas setelah munculnya kompetitor baru dan akhirnya resmi ditutup pada 2015.

Kini, setelah lebih dari satu dekade mati suri, Friendster mencoba kembali masuk ke pasar yang sudah dikuasai raksasa teknologi. Hingga Kamis, 30 April 2026, versi terbaru ini masih terbatas pada ekosistem Apple, namun antusiasme pengguna—terutama di Indonesia—terlihat cukup tinggi, didorong oleh faktor nostalgia sekaligus rasa penasaran terhadap konsep baru yang ditawarkan.

Dengan perubahan konsep yang cukup radikal dan pendekatan yang lebih personal, kebangkitan Friendster tidak hanya menjadi cerita nostalgia, tetapi juga eksperimen menarik di tengah dominasi media sosial modern. Publik kini menantikan apakah platform legendaris ini mampu bertahan dan kembali bersaing di era digital yang jauh lebih kompetitif.

Tags: friendster, friendster indonesia, friendster ada lagi

+ posts