
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) terancam ditutup setelah menghadapi tekanan keuangan berkepanjangan dan kesulitan mempertahankan operasional perusahaan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan salah satu badan usaha milik negara (BUMN) di sektor teknologi dan telekomunikasi nasional.
Menteri BUMN Erick Thohir mengakui PT INTI mengalami tantangan berat akibat perubahan industri teknologi yang berlangsung sangat cepat. Perusahaan disebut menghadapi tekanan utang dan penurunan bisnis yang membuat proses restrukturisasi semakin kompleks.
PT INTI sebelumnya dikenal sebagai perusahaan strategis nasional yang bergerak di bidang telekomunikasi, teknologi informasi, dan infrastruktur digital. Namun, persaingan industri dan perubahan model bisnis dinilai membuat perusahaan kesulitan beradaptasi.
Pemerintah saat ini masih mengkaji sejumlah opsi penyelamatan, termasuk restrukturisasi bisnis dan efisiensi operasional. Namun, peluang penutupan tetap terbuka apabila kondisi keuangan tidak dapat dipulihkan.
Pengamat BUMN menilai kasus PT INTI menjadi gambaran tantangan transformasi perusahaan negara di tengah disrupsi teknologi global. BUMN teknologi disebut harus mampu bergerak lebih cepat dalam inovasi dan pengembangan pasar agar tetap kompetitif.
Selain tekanan bisnis, PT INTI juga menghadapi tantangan dalam memperoleh proyek baru dan menjaga arus kas perusahaan. Situasi tersebut berdampak terhadap keberlanjutan operasional dan tenaga kerja perusahaan.
Pemerintah memastikan keputusan terkait masa depan PT INTI akan mempertimbangkan aspek bisnis, kepentingan negara, dan dampak terhadap karyawan perusahaan.
