
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa akan melibatkan lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota di wilayah pesisir utara Jawa. Proyek tersebut diproyeksikan menjadi salah satu program infrastruktur strategis nasional dalam menghadapi ancaman banjir rob dan perubahan iklim.
Menurut AHY, pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya ditujukan untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi dan kenaikan muka air laut, tetapi juga menjaga pusat ekonomi nasional yang berada di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
Pemerintah menilai ancaman perubahan iklim dan penurunan muka tanah di sejumlah wilayah pesisir sudah semakin serius. Karena itu, proyek tanggul laut raksasa dinilai menjadi kebutuhan jangka panjang untuk menjaga ketahanan wilayah perkotaan dan infrastruktur vital.
Selain aspek perlindungan lingkungan, proyek tersebut juga diproyeksikan mendukung pengembangan kawasan ekonomi baru, pelabuhan, hingga sistem transportasi terpadu di wilayah pesisir utara.
Pengamat tata kota menilai proyek Giant Sea Wall membutuhkan koordinasi lintas daerah dan pembiayaan besar karena cakupannya melibatkan banyak wilayah administratif. Dampak sosial dan lingkungan juga disebut perlu diperhatikan dalam tahap perencanaan.
Pemerintah memastikan penyusunan desain dan kajian teknis terus dilakukan bersama kementerian terkait agar proyek dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.
AHY menegaskan proyek Giant Sea Wall menjadi bagian penting strategi nasional menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir Jawa.
