
PT Krakatau Osaka Steel menghadapi tekanan berat di tengah persaingan industri baja yang semakin ketat, terutama dari produk impor asal China, dalam perkembangan yang mencuat sepanjang 2026 di Indonesia. Kondisi ini terjadi di sejumlah kawasan industri, termasuk di Cilegon, Banten, yang menjadi pusat produksi baja nasional.
Perusahaan hasil patungan antara Krakatau Steel dan Osaka Steel Jepang tersebut dilaporkan mengalami penurunan kinerja akibat membanjirnya baja impor berharga lebih murah. Produk baja dari China dinilai lebih kompetitif karena skala produksi besar serta dukungan biaya yang lebih rendah, sehingga menekan daya saing produsen lokal.
Tekanan terhadap Krakatau Osaka Steel mencerminkan tantangan yang lebih luas di sektor industri baja domestik. Sejumlah pelaku industri menyebutkan bahwa selisih harga antara baja lokal dan impor semakin melebar dalam beberapa tahun terakhir, membuat banyak proyek konstruksi beralih ke produk impor.
Pemerintah sebelumnya telah menerapkan sejumlah kebijakan pengamanan perdagangan, seperti bea masuk anti-dumping dan pengawasan impor. Namun, pelaku industri menilai langkah tersebut belum sepenuhnya efektif menahan laju produk baja dari luar negeri.
Selain faktor harga, pelambatan permintaan dalam negeri juga turut memengaruhi kinerja industri baja. Proyek infrastruktur yang melambat serta fluktuasi sektor properti menjadi salah satu penyebab menurunnya konsumsi baja nasional.
Analis industri memperkirakan kondisi ini dapat berdampak pada keberlangsungan perusahaan baja domestik jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang lebih kuat. Risiko pengurangan tenaga kerja dan penurunan kapasitas produksi menjadi perhatian utama.
Ke depan, pemerintah diharapkan memperkuat regulasi dan memberikan insentif bagi industri baja lokal guna meningkatkan daya saing. Sementara itu, perusahaan seperti Krakatau Osaka Steel perlu melakukan efisiensi dan inovasi untuk bertahan di tengah tekanan pasar global.
